Badak di Indonesia Terancam Kepunahan?

Badak!!! Satwa ini merupakan satwa yang secara umum cukup dikenal oleh masyarakat secara luas, bahkan pameo tentang ’muka badak’ lebih melekat dikalangan orang umum untuk orang yang tak tahu malu. Tapi sebenarnya badak adalah satwa yang sangat pemalu dan soliter (hidup sendiri-sendiri) di habitat aslinya.

Secara umum masyarakat mengenal badak adalah satwa yang punya tanduk atau cula di hidungnya dan berat badan yang besar. Secara morfologi itu sangatlah benar. Tetapi berdasarkan pengalaman dan pantauan yang terlihat, masyarakat di Indonesia lebih mengenal badak dari Afrika, besar tinggi dan punya cula yang menjulang tinggi seperti yang terlihat di Taman Safari, kebun binatang atau televisi.

Padahal di dunia ini ada 5 jenis badak, 2 jenis badak dari Afrika, 1 dari India dan 2 jenis dari Indonesia. Secara detail coba kita perhatikan perbedaannya berdasarkan gambar dibawah ini:

 Jenis-jenis Badak

Gambar 1. Lima jenis badak di dunia (Gambar by WWF)

Sebenarnya kita mempunyai 2 jenis badak yaitu badak Jawa dan badak Sumatera. Tetapi karena jumlahnya yang sangat sedikit sehingga foto-foto dan film mengenai badak Indonesia sangat jarang, tidak seperti badak Afrika yang jumlahnya cukup banyak dan informasi melalui film atau foto cukup menunjang. Sebagai perbandingan jumlah populasi badak putih saat ini kurang lebih 3000 ekor, sementara badak hitam kurang lebih 2000 ekor, sementara jumlah badak Jawa saat ini tidak lebih dari 40 ekor saja!!! Dan badak Sumatera tidak lebih dari 200 ekor!!!. Belum lagi tempat hidup mereka yang berbeda, badak di Afrika lebih banyak hidup ditempat terbuka dan makan rumput sedangkan badak di Indonesia hidup dihutan-hutan sekunder dan hanya makan dedaunan. Jangankan buat memfoto atau membuat filmnya, menemukannya secar langsung di hutan merupakan kejadian yang cukup langka.

Tidak disalahkan apabila masyarakat di Indonesia pada umumnya hanya mengenal badak yang berasal dari Afrika, memang pada kenyataanya yang terjadi seperti itu, dan kalaupun sebagian mengetahui ada badak di Indonesia itupun adalah Badak Ujung Kulon. Ujung Kulon memang sangat melakat dengan adanya satwa badak yang dilindungi di daerah tersebut dan menjadi maskot dari dalu. Padahal kalau kita cermati bersama badak di Indonesia saat ini sudah dalam jalur menuju kepunahan!!!! Kepunahan yang berarti satwa badak yang berasal dari Indonesia sebentar lagi hanya akan tinggal nama dan cerita seperti layaknya harimau Jawa dan harimau Bali.

Penurunan kualitas habitat yang sangat drastis mengakibatkan penurunan populasi yang cukup mengkawatirkan bagi perkembangan kelangsungan badak di Indonesia. Populasi badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) sudah mengalami penurunan hampir 50% dari populasi yang ada 10 tahun belakangan ini. Sementara perkembangan badak jawa (Rhinoceros sondaicus) tidak mengalami peningkatan dan cenderung stagnan. Disamping penurunan kualitas habitat yang cukup serius, tingginya perburuan badak juga menambah faktor semakin menurunnya populasi badak di Indonesia terutama badak Sumatera. Sebagai contoh, populasi badak yang dahulunya cukup bagus di Taman Nasional Kerinci Sebelat, saat ini sudah banyak berkurang. Begitupun dengan populasi-populasi badak yang tersisa di beberapa lokasi Taman Nasional.

Sebagai bahan bandingan, dari 17 lokasi kantong badak yang tercatat di Pulau Sumatera berdasarkan catatan pada awal Strategi Konservasi Badak Indonesia pada tahun 1994, sekarang hanya tertinggal di empat lokasi yang masih mempunyai populasi cukup bagus walaupun cukup menghawatirkan. Keempat lokasi tersebut adalah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Kerinci Sebelat dan Taman Nasional Gunung Leuser. Walaupun masih ada indikasi populasi badak di beberapa lokasi lainnya, tetapi belum dapat dilihat secara pasti.

Populasi badak jawa dan badak sumatera saat ini sudah dalam keadaan terancam punah karena populasinya yang terus-menerus menurun dengan berjalannya waktu. Populasi badak jawa yang saat ini hanya tinggal di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berdasarkan hasil sensus yang rutin dilaksanakan menunjukkan bahwa populasi badak jawa dalam kondisi cukup mengkwatirkan. Sepuluh tahun terakhir jumlah populasinya berkisar antara 50-60 ekor, atau dengan kata lain kondisi populasinya stagnan. Walaupun tingkat keamanan mungkin cukup bagus karena tidak lagi ditemukannya kasus perburuan badak semenjak adanya patroli pengamanan oleh Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU), tetapi bukan jaminan bahwa kondisi badak jawa akan lestari.

Faktor kualitas habitat, adanya persaingan ruang dan pakan serta faktor dalam (intern) dari badak jawa juga perlu menjadi perhatian utama. Dari banyak tulisan mengenai preferensi habitat badak jawa disebutkan bahwa satwa ini amat membutuhkan dataran rendah sedangkan kunjungannya ke gunung-gunung hanya sebagai kebutuhan selingan untuk mendapatkan mineral, sulfur, garam dan lainnya. Adapun habituasi terhadap jenis pakan satwa ini amat tergantung terhadap adanya pucuk-pucuk tumbuhan yang banyak terdapat pada ekoton-ekoton/rumpang-rumpang. Kondisi semacam ini pada kenyataannya sudah sulit ditemukan karena jumlah badak tak cukup banyak untuk “memelihara habitatnya sendiri” sehingga suksesi cenderung menuju klimaks, amat sedikitnya upaya pembinaan habitat dan ditambah sempitnya padang penggembalaan yang hampir tidak pernah dipelihara lagi yang cenderung meningkatkan persaingan ruang dan pakan antara badak jawa dengan banteng. Hasil sensus tahunan selama sepuluh tahun terakhir yang menunjukkan kisaran jumlah yang sama patut dicermati sebab-sebabnya. Pengelola konservasi dalam kondisi semacam ini tentu dituntut untuk mengambil sikap untuk memilih apakah melakukan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa kunci ataukah membiarkan kepada alam apa yang akan terjadi?

Sungguhpun badak sumatera menikmati sebaran yang lebih luas bila dibandingkan dengan badak jawa, kondisi penyebaran dan populasi badak sumatera juga sangat mengkhawatirkan. Apabila dilihat dari jumlahnya yang masih diatas 100 ekor, lebih banyak dibandingkan dengan populasi badak jawa, namun tingkat laju kepunahan badak sumatera jauh lebih tinggi daripada badak jawa. Perburuan terhadap satwa ini yang masih sangat tinggi dan disamping semakin berkurangnya habitat satwa ini karena peralihan bentuk hutan menjadi peruntukan lain oleh manusia.

Rencana tindakan konservasi terhadap badak jawa di Ujung Kulon dan badak sumatera sudah sering dilaksanakan. Kegiatan penelitian-penelitian terhadap habitat, populasi dan konservasi badak jawa dan sumatera serta peningkatan kepedulian masyarakat sekitar habitat badak sudah dilaksanakan baik oleh peneliti-peneliti dari luar maupun dalam negeri, universitas dan pihak taman nasional sendiri. Sudah adanya peran serta masyarakat dan tingginya tingkat kesadaran mereka dapat terlihat dari telah turun bahkan sudah tidak ditemukannya lagi perburuan terhadap badak jawa. Sementara itu program mencari habitat kedua bagi badak jawa agar dapat berkambang biak diluar Ujung Kulon masih belum terealisasi. Hal ini terjadi karena masih adanya perbedaan pendapat dari stakeholder disamping masih belum ditentukannya daerah yang cocok, terutama dari sudut pandang keamanan, untuk menjadi habitat kedua bagi badak jawa.

Untuk kedepan, kepedulian dan kecintaan kita terhadap alam dan isinya termasuk badak sangat ditunggu dan diinginkan bagi kelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia. Bukankah satwa yang hidup lebih bernilai tinggi daripada hanya benda mati dan cerita dari orang-orang terdahulu kita????

Ditulis oleh:
Sectionov
IRF (International Rhino Foudation) Assistant Coordinator for SE ASIA

  1. #1 by JaTiL on June 17, 2008 - 8:27 pm

    AssaLamu’aLaikum,,,,,,

    SeLamatKan BaDak IndoNeSia!

  2. #2 by Pradito Aryo on August 27, 2015 - 11:30 am

    Ayo selamatkan Badak Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: