Badak dan Global Warming

Fenomena alam yang terjadi belakangan hari ini secara tidak sadar telah mengancam kehidupan manusia di atas bumi ini. Angin ribut, gelombang pasang yang tinggi, sudah tidak menentunya musim, menjadi suatu pertanda telah terjadi perubahan di atas muka bumi ini. Berdasarkan data yang ada suhu di permukaan bumi meningkat hingga 3,5 derajat Celcius yang menyebabkan es di kutub meleleh dan diperkirakan 15 tahun mendatang ribuan kepulauan kecil bakalan kandas.

Secara umum dapat diterangkan bahwa Global Warming itu adalah dampak kenaikan konsentrasi gas rumah kaca yang menyebabkan suhu di seluruh permukaan bumi naik. Secara alamiah bumi yang kita tempati ini dilindungi oleh gas rumah kaca yang terdiri dari gas karbon dioksidan, oksida belerang, oksida nitrogen, serta senyawa organik seperti metana dan CFC (chloro fluoro carbon). Gas ini menjadi selimut bumi, konon tanpa selimut temperatur bumi 33 derajat celcius lebih rendah dibandingkan sekarang. Nah dengan telah mulai menipisnya selimut bumi ini membuat iklim dibumi ini menjadi tinggi karena sinar matahari akan langsung menembus kepermukaan.

Badak G W

Sebagaimana kita ketahui bersama, bumi ini mempunyai dua kutub yaitu kutub utara dan kutub selatan. Kedua kutub yang mempunyai luas cukup besar terdiri dari bongkahan-bongkahan es. Bongkahan-bongkahan es ini akan mencair dengan meningkatnya suhu yang tinggi serta akan meleleh menjadi air dan bergabung ke air laut. Hal ini yang menjadi bahaya, air laut menjadi naik dan mau tak mau membuat gelombang air laut menjadi tinggi. Memang dampak ini tidak secara langsung terjadi, tetapi secara perlahan. Berdasarkan dari berita-berita yang ada, sudah banyak pulau-pulau kecil di Indonesia yang sudah tenggelam dan permukaan pantai sudah semakin naik ke darat. Hal ini dapat dirasakan masyarakat yang tinggal di pinggir pantai.

Disamping itu dampak dari global warming juga sangat terasa bagi satwa. Sebagai contoh kita lihat burung-burung yang selalu bermigrasi dari kutub utara ke kutub selatan sudah mulai kebingungan dengan kondisi habitatnya yang berubah. Banyak kita temui mereka akhirnya sering “parkir” di pantai utara laut Jawa seperti di Pulau Rambut. Biasanya daerah itu hanya sebagai tempat transit sebelum mereka melanjutkan perjalanannya. Beruang kutub jelas-jelas sangat merasakan dampaknya, habitat mereka semakin sempit karena bongkahan-bongkahan es terus mencair.

Apa hubungannya dengan Badak??

Perubahan iklim yang sangat drastis membuat terjadinya perubahan habitat (sebagian besar berbentuk hutan) yang sangat berdampak pada kelangsungan satwa yang hidup di dalamnya. Musim kemarau yang panjang atau hujan yang terjadi terus menerus menjadi salah satu hal yang membuat perilaku satwa jadi terganggu. Mereka menjadi stress akibat habitat alaminya menjadi berubah. Sangat berbeda dengan kita manusia yang mungkin dapat merekayasa tempat tinggal kita dengan teknologi untuk mengantisipasi kondisi yang berlangsung, tetapi satwa-satwa tidak mampu mengatasinya dengan cepat. Akhirnya hanya seleksi alam yang terjadi dan hukum siapa yang dapat bertahan dari kondisi yang ada akhirnya berlaku. Masih ingat bagaimana dinosaurus yang dulu merajai dunia ini akhirnya punah? Walaupun saat ini masih ditemukan satwa-satwa yang menyerupai satwa zaman dinosaurus itupun adalah satwa yang sudah menyusaikan dengan kondisi alamnya saat ini.

Badak yang merupakan salah satu satwa besar dan salah satu satwa yang hasil dari seleksi alam dari moyangnya badak zaman dinosaurus ikut merasakan dampak yang luar biasa terhadap hal ini. Perubahan suhu dan iklim yang berubah menyebabkan siklus tumbuhan pakan dan kondisi habitatnya juga berubah. Pada waktu kemarau panjang terjadi, kebiasaan badak untuk berkubang sulit untuk dipenuhi karena bagaimana pun badak memerlukan air yang cukup banyak untuk membuat kubangan. Padahal dari hasil berkubang ini badak menjadi satwa yang sangat effektif dalam menyebarkan benih dilantai hutan. Kemampuannya untuk berjalan sampai berkilo-kilo jauhnya sangat berarti dalam menyemaikan benih-benih di lantai-lantai hutan sebagai media tumbuh yang menguntungkan bagi “Sang Benih”. Benih pun yang tanpa sengaja mendapatkan singgasana untuk membuktikan kefertilannya, segera memecahkan masa dormansi sehingga bisa mengalami Germination (perkecambahan). Yang akhirnya tumbuh menjadi pohon besar, gagah, dengan akar mencengkeram bumi, siap mencegah segala bentuk bencana banjir atau longsor di muka bumi, sekaligus sebagai Nature Wind Break (pemecah angin alami).

Hal ini tidak hanya terjadi pada badak, harimau, gajah, orangutan dan satwa-satwa lainnya juga mengalami hal yang serupa. Belum lagi satwa-satwa langka di laut yang lambat laut semakin menghilang keberadaannya. Hilangnya satwa secara tidak langsung manjadi salah satu bertanda hilangnya hutan dan begitupun sebaliknya, serta secara beruntun sepeti efek batu domino akan mengancam kehidupan manusia sebagai khalifah dan pengurus utama dari bumi ini.

Global warming mungkin salah satu pertanda bahwa dunia ini beserta isinya perlu diperhatikan secara arif dan bijaksana, dan kita sebagai manusia yang akan merasakan dampaknya!!!!

by Sectionov (IRF Assistant Coordinator for SE ASIA)

  1. #1 by Eka Dharma Putra Fao on March 25, 2009 - 12:34 am

    Global Warming pada sa’atnya akan mengantar kita pada zaman dimana sangat sulit untuk mendapatkan air bersih. sedangkan air merupakan sumber kehidupan makhluk hidup. sudah sa’atnya manusia hudup dengan tidak lagi terlena dengan masa sekarang, tetapi lebih arif memikirkan bagaimana bumi kita puluhan tahun kedepan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: