Catatan Harian Rosa (bag-1/2)

ROSA birthdayHalo teman-teman aku Rosa. Aku adalah seekor Badak Sumatera. Aku ingin bercerita tentang masa laluku, ketika aku masih berada di Bukit Barisan Selatan. Aku dilahirkan dan dibesarkan di sana. Usiaku kini 5 tahun, dan sekarang aku berada di Suaka Rhino Sumatera Lampung Taman Nasional Way Kambas.

“Aku punya dua cula di kepalaku. Badanku sangat unik. Aku punya dua lipatan pada tubuhku, satu di belakang kaki depan, dan yang satu lagi ada di depan kaki belakang. Hampir di sekujur tubuhku ditumbuhi oleh bulu. Aku tinggal bersama dengan ibuku di dalam hutan yang penuh dengan pohon-pohon rindang. Ibuku sangat menyanyangiku dan selalu menjagaku kemanapun aku pergi. Aku diajarkan berbagai cara merobohkan pohon untuk mendapatkan makanan dan diajarkan juga cara membuat kubangan dari lumpur. Kata ibuku aku harus selalu melumuri tubuhku dengan lumpur, supaya kulitku tidak rusak oleh sinar matahari.

Aku punya banyak teman di tempat tinggalku. Diantaranya si Raja. Raja adalah seekor burung “raja udang”. Dia sangat manis, dan baik hati. Aku senang bermain dengannya. Setiap kali aku berkubang, Raja selalu menemaniku. Raja paling senang bernyanyi sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Tubuhnya yang berwarna biru kekuning-kuningan terlihat mengkilat saat terkena sinar matahari. Meskipun dia manis, raja tidak pernah sombong. Raja adalah teman yang baik. Ada juga si Batan seekor babi hutan. Aku sering bertengkar dengannya, karena Batan suka mengotori tempat berkubangku. Batan tidak pernah membantu aku saat aku membuat kubangan. Meskipun begitu aku senang berlari dan berkejar-kejaran dengannya. Tubuhnya yang kecil memudahkan dia untuk menerobos lubang-lubang kecil dan sampai akhirnya dia bisa lolos dari kejaranku. Aku sangat senang dengan mereka.

Pada suatu hari ketika aku dan ibuku sedang berjalan-jalan di hutan, tiba-tiba kaki ibu tidak bisa digerakkan. Ibu berteriak keras dan merintih kesakitan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya melihat ada sebuah benda melilit di kaki ibu, dan tetesan-tetesan darah dari kaki ibu. Aku berusaha untuk menyingkirkan benda itu dari kaki ibu dengan culaku, tapi aku tidak berhasil. Berkali-kali ibu berteriak memintaku untuk berlari menjauh saja, tapi aku tidak mau. Aku ingin ibu terlepas dari benda itu. Tak tahan akhirnya ibu mendorongku sampai aku terjatuh. Aku melihat ibu sangat marah padaku. Aku takut, ibu tidak pernah semarah itu pada ku. Akhirnya dengan menangis akupun berlari menjauh dari tempat itu. Aku berlari kencang sampai di dekat kubanganku.

Tangisanku ternyata didengar oleh Batan dan Raja, yang pada saat itu mereka sedang berada di dalam kubanganku. Raja secepat kilat telah berada di atas kepalaku. Batan segera menghampiriku dan meminta maaf padaku. Batan mengira aku menangis karena dia bermain di kubanganku. Akhirnya aku menceritakan apa yang telah terjadi pada Batan dan Raja. Batan hanya bisa menghiburku, dan menyakinkanku bahwa ibu akan baik-baik saja.

Keesokan harinya bersama dengan Batan dan Raja, aku memutuskan untuk kembali ketempat dimana ada ibu. Betapa terkejutnya aku, ketika aku menemukan ibu dalam keadaan terlentang dan tidak bernafas lagi. Selain itu juga aku menemukan lautan darah, dan benda berwarna perak yang melilit kaki ibu dengan kencang. Aku menangis kencang sekali. Raja dan Batanpun akhirnya ikut menangis pula. Aku berpikir sekarang ibu telah tiada. Aku pandangi ibu dengan seksama, dengan harapan ibu akan kembali hidup lagi. Namun ternyata ibu benar-benar sudah tiada. Aku bingung ketika aku melihat kepala ibu, aku menemukan sesuatu yang ganjal, ternyata cula ibu telah hilang. Tangiskupun semakin menjadi.

Hari demi hari aku lalui hanya bersama dengan kedua sahabatku. Batan dan Raja selalu menghiburku sehingga aku tidak terlarut dalam kesedihan. Sekarang tidak ada lagi ibu yang bisa melindungiku. Kami telah berjalan sangat jauh meninggalkan tempat kenangan itu. Perjalanan kamipun melewati kebun-kebun warga yang berada di pinggiran hutan. Batan dan Raja selalu mengingatkanku untuk tidak bermain-main di kebun-kebun itu. Tapi entah dorongan apa yang telah menjadikanku selalu ingin bermain di daerah kebun-kebun itu. Di kebun itu banyak pohon jeruk yang ditanam oleh warga. Suatu kali aku mencoba memakan buahnya, aku sangat menyukai rasanya. Hampir setiap hari aku berada di kebun untuk mengambil dan memakan buah jeruk itu. Pada suatu hari ketika aku sedang memakan buah jeruk, ada seorang warga yang meneriakiku sambil membawa tongkat kayu. Aku terkejut dan aku lari sekencang-kencangnya masuk kedalam hutan. Batan dan Raja telah dulu berlari. Aku sangat lelah hari ini, ingin rasanya aku tidur. Segera aku cari daerah berlumpur dan kemudian aku berkubang ditemani oleh Batan. Raja menyanyi di pohon atas kubanganku. Aku bertanya pada Batan tentang apa yang telah dilakukan oleh warga tadi pada aku. Apakah warga itu tidak suka denganku, atau jangan-jangan warga itu justru ingin mengajakku bermain.

Setelah kejadian itu, aku takut untuk bermain di kebun lagi. Akhirnya kami bertiga meneruskan perjalanan kearah yang berbeda. Ternyata daerah yang kami temui tidak jauh beda dengan daerah yang pertama. Banyak kebun-kebun dan ada juga bangunan rumah warga. Semakin sering aku bertemu dengan warga. Namun kali ini warga di desa ini sangat baik. Desa ini bernama “Kalikumbang”. Warga desa ini justru sering melempariku pisang ketika aku melewati dekat rumah mereka. Aku sangat senang berada di desa ini. Aku sering bermain di sekitar rumah warga. Batan dan Raja tidak berani menenamiku bemain, mereka takut kalau tiba-tiba mereka dibunuh oleh warga. Aku tidak peduli dengan pemikiran mereka. Akupun terus saja bermain di permukiman tersebut. Suatu ketika aku melihat sebuah benda aneh. Bentuknya panjang, seperti tali, berwarna hijau, dan bila aku gigit akan keluar cairan yang mengenai mulutku. Sungguh indah benda ini. Hampir berjam-jam aku menghabiskan waktuku untuk memainkannya. Meskipun aku senang dengan benda ini sepertinya warga tidak suka kalau aku memainkannya. Setiap aku memainkan benda ini, warga selalu meneriakiku dan memintaku untuk tidak memainkannya, karena benda itu adalah selang air mereka. Oh… ternyata aku telah merusak selang air itu. Selang air itu menjadi bocor, sehingga aliran air ke rumah warga tidak lancar. Semakin hari sepertinya warga semakin tidak menyukaiku karena tingkahku. Akhirnya aku putuskan untuk kembali lagi ke hutan. Batan dan Raja yang menungguiku di pinggiran hutan senang melihatku kembali.

(bersambung)

Writen by Little_Rhino

Gambar diambil dari http://www.asianrhinos.org.au/sumatranprojects.html

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: