Catatan Harian Rosa (bag-2/2)

Rosa di habitat SRSBerhari-hari aku di hutan, aku mulai bosan dengan semuanya. Aku ingin bermain lagi di Kalikumbang. Batan dan Raja tak bosan-bosan melarangku untuk pergi kesana. Namun aku tetap pergi juga. Sesampainya aku di Kalikumbang aku bingung, karena disana ada sekelompok warga dengan pakaian hitam-hitam menghampiriku. Aku tidak tahu siapa mereka dan mau apa mereka. Aku belum pernah melihatnya. Aku takut, akhirnya aku berlari menjauh dari mereka. Aku kembali lagi kehutan. Setelah itu aku menceritakan semuanya pada Batan dan Raja. Kata Raja, Raja pernah melihat sekelompok warga tersebut di hutan, mereka adalah team patroli hutan, yang selalu menjaga keamanan di hutan. Sepertinya ada warga Kalikumbang yang telah melaporkan keberadaanku di desa mereka kepada team ini.

Pada hari itu aku ingin sekali memakan buah jeruk. Untuk kesekian kalinya aku kembali lagi kedaerah itu. Aku merusak beberapa pohon jeruk untuk mendapatkan buahnya. Aku heran dari kejauhan aku melihat ada warga yang berseragam hitam itu lagi yang mengamatiku, tapi mereka tidak meneriakiku atau melemparkan tongkat kayu padaku seperti waktu dulu. Setelah aku merasa puas dengan buah jerukku, aku kembali bermain dengan selang air di belakang rumah warga. Dan keherananku semakin menjadi, tak satupun warga yang berani meneriakiku sekarang. Aku hanya dilihat saja oleh salah satu orang yang berbaju hitam itu. Aku lebih suka memanggil dia dengan sebutan RAKA seperti tulisan yang ada di saku dada kanannya. Kemanapun aku pergi Raka selalu mengikutiku. Sampai akhirnya aku kembali ke hutan dengan harapan Raka dan kawan-kawannya akan meninggalkanku. Tapi ternyata tidak, Raka tetap saja mengikutiku.

Pada suatu hari ketika aku, Raja dan Batan berjalan di hutan, aku bertemu dengan sekelompok gajah liar. Batan sembunyi di balik pohon besar. Raja terbang dan hinggap di dahan pohon yang amat tinggi. Aku bingung harus bersembunyi dimana. Aku takut dengan gajah, karena tubuh dia hampir 3 kali besar tubuhku dan wow…… ada kurang lebih 5 ekor gajah dalam satu kelompoknya. Satu diantaranya berbadan paling besar, sepertinya dia adalah ketua rombongannya. Karena kegusaranku akhirnya sang ketua mengetahui keberadaanku. Aku mulai panik dengan keadaan ini. Namun tiba-tiba aku mendengar suara letusan senjata angin. Suara itu ternyata berasal dari senapan yang dibawa oleh Raka dan kawan-kawan. Suara tersebut telah mengejutkan kawanan gajah dan akhirnya kawanan gajah tersebut menjauh dari tempatku. Aku baru sadar ternyata sedari tadi aku selalu berada di pantauan Raka dan kawan-kawan. Aku sedikit merasa tenang. Aku merasa seperti ada ibuku lagi yang dapat melindungiku. Kini aku menganggap Raka sebagai salah satu sahabatku.

Aku senang dengan adanya Raka. Dia selalu mengajakku bermain. Aku sering berlari dan berkejar-kejaran dengan dia saat di hutan. Badan dia yang ringan membuat dia mudah memanjat pohon untuk mengindari berbagai seranganku. Raka selalu sabar menemaniku ketika aku berkubang. Tak jarang Rakapun tertidur saat menungguku, di atas dahan pohon seperti seekor siamang. Ibu aku sangat senang, kini aku telah menemukan orang yang dengan sepenuh hatinya mau menjagaku kemanapun aku pergi. Dengan adanya dia aku sekarang jarang bermain di permukiman lagi. Batan dan Raja pun senang dengan dia.

Persahabatan kamipun sudah lama terjalin. Bukit demi bukit telah kami lewati bersama. Batan semakin besar sekarang. Badannya kini hampir 2 kali dari yang dulu. Raja semakin manis dengan warna bulunya. Akupun merasa sekarang tubuhku sudah semakin besar. Hampir 2 tahun kebersamaanku dengan Raka.

Pada suatu hari aku mendengar rencana bahwa aku akan dipindahkan ke tempat lain. Aku akan dipindahkan ke penangkaran yang terletak di Taman Nasional Way Kambas Lampung tepatnya di Suaka Rhino Sumatera. Aku terkejut dengan rencana translokasi itu. Menurut banyak pihak keberadaanku semakin mengawatirkan keselamatanku. Mereka takut kalau aku menjadi incaran para pemburu dikala Raka dan kawan-kawannya sedang terlalai. Aku tidak ingin meninggalkan tempat kelahiranku. Aku berlari menjauh tanpa sepengetahuan mereka. Aku bersama dengan Batan dan Raja meninggalkan Raka dan kawan-kawannya. Aku kembali berjalan di hutan belantara.

Raka dan kawan-kawannya mulai melakukan patroli untuk menemukan keberadaanku. Dan akhirnya Raka menemukanku saat aku sedang berkubang. Berulang kali Raka berusaha membangunkanku, tapi aku tetap saja berkubang. Aku sangat benci dengan Raka. Kenapa Raka menginginkan aku untuk meninggalkan tempat ini? Akhirnya dengan langkah gontai Raka meninggalkanku. Batan dan Raja melihat betapa sedihnya muka Raka, sepertinya Raka tahu kalau aku sangat marah dengan dia. Batan dan Raja mencoba memberiku pengertian, sampai pada akhirnya aku tersadar bahwa memang sudah seharusnya aku tidak merepotkan Raka dan kawan-kawannya. Aku teringat beberapa kejadian yang hampir membahayakan diriku. Ternyata aku tidak mampu melindungi diriku sendiri. Aku belum belajar banyak dari ibu bagaimana cara melindungi diri saat aku dalam bahaya. Selalu saja Raka dan kawan-kawanlah yang menyelamatkanku. Mungkin saat ini Raka masih mampu menjagaku, tapi apa yang akan terjadi ketika Raka dan kawan-kawannya meninggalkanku, aku yakin nasibku pasti akan seperti ibu.

Saat ini aku sudah percaya dengan Raka. Aku percaya padanya apapun yang terjadi adalah yang terbaik buat aku. Keesokan harinya Raka kembali lagi mencariku. Raka menemukanku kembali ketika aku berada di kubangan. Raka dengan sabar menungguku bangun dari kubangan. Setelah aku bangun, Raka mulai mengajakku menuju ke sebuah kandang di tengah hutan. Semula aku takut untuk memasukinya, karena ada Raka di dalamnya maka aku percaya semuanya akan baik-baik saja. Kandang yang aku masuki ternyata kandang karantina. Aku berada di dalam kandang ini selama 3 bulan. Di dalam kandang ini aku selalu diberi makan buah-buahan dan beberapa daun-daun hutan. Setiap hari Raka selalu menyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Aku rindu pada Batan dan Raja.

Akhirnya hari pemindahankupun tiba. Aku berada didalam kandang angkut yang dibawa oleh truk. Perjalanan yang akan aku tempuh cukup jauh. Raka selalu berada di sampingku. Dengan sabar dia selalu menyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik. Di malam itu aku harus meninggalkan Bukit Barisan Selatan. Aku menangis, namun tidak ada yang tahu kegundahan hatiku. Batan entah dimana dia, mungkin dia masih bingung dengan hilangnya aku. Ketika Raka membawaku dari kubangan waktu itu, Batan sedang tidak bersamaku dan Raja sedang mencari makan. Aku yakin dia pasti bingung mencariku. Aku belum mengucapkan salam perpisahan pada mereka berdua. Aku takut, tapi sepertinya semua sudah tidak mungkin lagi. Aku harus tetap meninggalkan tempat ini. Seolah-olah malam itu alam turut bersedih dengan kepergianku. Ibu maafkan aku, aku harus meninggalkan tempat ini demi keselamatanku. Maafkan aku ibu, aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, dan terlalu berbahaya bila aku tetap berada disini. Selamat tinggal ibu, selamat tinggal Batan, selamat tinggal Raja, dan selamat tinggal semuanya.

Perjalananku sangat panjang. Aku berangkat ketika hari mulai gelap. Setiap jam Raka memberiku air dalam ember agar aku tidak kehausan. Sampailah aku di SRS TNWK pada pagi harinya. Aku ternyata telah berpikiran salah. Semula aku pikir aku akan berada selamanya dalam kandang sempit seperti di Kebun Binatang, ternyata dugaanku salah. Tempatku sekarang hampir sama dengan tempat yang dulu. Disini ternyata terdapat 3 ekor badak Sumatera juga. Meraka adalah Torgamba, Bina dan Ratu. Torgamba adalah badak jantan yang dahulunya berada di kebun binatang Inggris, Bina adalah badak betina yang juga berasal dari kebun binatang, yaitu berasal dari Taman Safari Indonesia, yang terakhir adalah Ratu. Ratu sepertinya memiliki cerita masa lalu yang hampir sama denganku. Hari-hariku di SRS selalu dipantau, baik kesehatanku maupun makananku.

Kini aku telah menjadi penghuni tetap SRS. Banyak harapan yang digantungkan padaku. Setelah pemindahanku, aku berpikir bahwa selamanya Raka akan bersamaku. Ternyata tidak, Raka harus kembali ke Bukit Barisan Selatan untuk tetap menjaga hutanku, tempat aku dilahirkan, tempat ibuku, tempat sahabat-sahabatku. Aku harus berpisah dengan Raka. Saat pertama-tama aku berpisah aku merasa sangat kesepian. Namun lambat laun aku menemukan banyak teman di SRS. Ada “Oka” seekor burung hantu,” Manis” seekor Rusa sambar, babi hutan seperti Batan dan ada juga “Itam” seekor siamang. Mereka senang dengan kedatanganku.

Akhirnya aku hanya bisa mengucap syukur atas semuanya. Terima kasih Raka, karena mu lah kini aku mendapatkan tempat yang aman. Doakan aku sahabat-sahabatku semoga aku bisa melanjutkan kelestarian hidupku.”

Demikianlah teman-temanku, cerita tentang masa laluku. Perjalanan hidupku sangat panjang. Aku hanya bisa berharap pada teman-temanku semua, bantulah aku dengan tetap menjaga utuhnya habitatku, tetap menjaga hijaunya hutanku, karena dengan tetap utuhnya habitatku aku tidak akan keluar merusak kebun-kebun warga, dan dengan tetap hijaunya hutanku maka sahabat-sahabatku akan tetap bisa bertahan hidup.

(selesai)

Writen by Little_Rhino

Gambar diambil dari http://www.rhinos-irf.org/adoptarhino/

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: