Kisah Si Ratu (bag-2/2)

sumatran rhinoSepanjang perjalanan aku menemukan banyak liana, namun tanpa aku sadari ternyata 100 meter di depanku ada sebuah lahan yang terbuka. Aku tak tahu pasti lahan apa itu. Terdorong oleh rasa keingintahuanku akhirnya aku melangkahkan kaki kearah lahan terbuka. Wow….. sangat luar biasa, hutan yang dulu aku lihat sekarang telah berubah menjadi lapangan bola…..

Beribu-ribu pohon besar tumbang. Ahhhh….. aku jadi teringat dengan sahabatku Boni, ada dimana dia sekarang…. jangan-jangan dia ada di salah satu pohon besar itu. Atau jangan-jangan dia tertangkap oleh para penebang pohon…. aku jadi mengkhawatirkan keadaan Boni. Aku sibuk mengamati pohon-pohon tumbang tersebut untuk memastikan bahwa tidak ada Boni diantaranya. Aku terlalu mengkhawatirkan Boni sampai akupun tidak sadar dengan keadaan sekitarku. Aku terhenyak ketika aku mendengar suara teriakan, sepertinya teriakan itu ditujukan untuk menghalau kehadiranku.

“Ada badak……….. ada badak………., cepat tangkap dia, dia akan merusak lahan kita..” begitulah teriakan yang aku dengar. Aku tak tahu apa maksud mereka. Banyak sekali masyarakat yang mengejarku….. aku bingung dengan suasana seperti ini. Karena takut maka akupun berlari sekuat tenaga. Aku tak tahu lagi arah mana yang aku tuju. Badanku yang bulat sedikit menyusahkanku untuk berlari. Aku tidak menemukan satupun pohon yang bisa aku gunakan untuk bersembunyi. Rasa capai dan tegang di kakiku hampir tak terasa lagi. Aku semakin bingung, ternyata aku berlari kearah pemukiman penduduk. Aku semakin jauh dari hutanku.

Berjuta-juta rasa di tubuhku sepertinya justru membuatku ingin terus berlari dan berlari. Namun ternyata keempat kakiku mulai tak sanggup melangkah lagi. Seketika itu aku melihat sebuah kolam, akhirnya akupun melompat dan masuk ke dalam kolam tersebut. Para warga pun berbodong-bondong mendekati kolam itu dan menyaksikan ketersiksaanku. Dalam kolam itu, aku berusaha mendinginkan badanku. Sekujur tubuhku seperti terpanggang. Aku merasa seperti babi panggang. Hampir 2 jam aku berlari di permukiman tanpa adanya pohon yang biasa memayungiku. Sang suryapun dengan gagahnya menyinari kemanapun aku melangkah seperti ingin menyaksikan kejadian hari ini.

Lelah, haus, panas dan tegang, itulah beberapa kata yang cukup bisa menggambarkan keadaanku saat ini. Ketika semakin banyak orang mendekati kolam itu, aku semakin ingin bangun dan meninggalkan kolam itu, karena aku ingat dengan pesan ibu bahwa tak seharusnya kita bertemu dengan manusia, karena kita tidak akan tahu apa yang akan manusia perbuat terhadap kita. Namun….. uuh… uhhh… sungguh berat sekali kaki ini untuk melangkah. Auw…. sakitnya luar biasa…. ketika aku mencoba menggerakkan kakiku, rasa sakit itu seperti setrum listrik yang menjalar keseluruh tubuhku. Oh…Tuhan apa yang terjadi pada diriku…..

Cukup lama aku terdiam di kolam itu, dengan harapan kakiku dapat kembali normal sehingga aku bisa berlari menjauhi kerumunan para warga. Namun semua harapanku sepertinya sirna. Aku benar-benar tidak bisa melangkahkan kaki-kakiku. Sesaat kemudian aku melihat ada beberapa orang yang mencoba membantuku keluar dari kolam itu. Mereka mengikatkan beberapa tali di badanku. Setelah itu mereka mencoba menarikku keluar dari kolam. Semua organ tubuhku terasa berat, terlebih lagi kakiku. Berlahan-lahan aku mencoba menggerakkan kaki-kakiku. Kaki depanku dengan cepat dapat aku gerakkan, namun kaki belakangku sepertinya sama sekali tidak tergerak. Sekuat tenaga aku kerahkan untuk mencoba berdiri dengan keempat kakiku, tapi semua usahaku gagal, hanya kaki depanku saja yang tergerak. Akhirnya dengan bersusah payah akhirnya… hore……. aku bisa berdiri lagi. Tapi saat aku mencoba berlari, aku terjatuh lagi, kaki belakangku membatu.

Beramai-ramai para warga membantuku untuk berdiri. Tapi…. apa itu? Di depanku ada sebuah benda berukuran besar berwarna hijau, berbentuk kotak dengan banyak jeruji di sisi-sisinya. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang akan terjadi. Para warga berusaha memasukkanku ke dalam kotak hijau itu. Mereka menyebut kotak itu dengan nama kandang angkut. Wah….. akan dibawa kemanakah diriku???? Setelah aku berada di dalam kandang angkut tersebut, kandang itu dinaikkan ke dalam truk besar. Aku melihat perjuangan para warga mengangkatku. Beratku ditambah dengan berat kandang hampir lebih dari 1000 kg. kini aku telah berada di atas truk tersebut. Kurang lebih 30 menit aku telah berada di dalam hutan lagi, tapi sepertinya ini bukan hutan tempat tinggalku.

Entah apa yang sedang para warga diskusikan. Hampir 1 jam aku berada di atas truk. Setelah itu aku melihat mereka mencoba menurunkan kembali kandangku dari truk. Saat aku telah keluar dari truk, pintu kandangkupun terbuka, namun…. yang ada dihadapanku kini adalah bangunan dengan ukuran 4×6 meter berlantaikan semen dan dikelilingi oleh teralis beton yang sangat kuat. Aku mencoba menginjakkan kakiku kedalam bangunan tersebut……. sesaat setelah aku berada didalam bangunan itu para wargapun bersorak gembira….. kini aku telah berada di suatu pusat penangkaran badak Sumatera di Way Kambas Lampung yang biasa disebut dengan Suaka Rhino Sumatera (SRS). Di SRS ada 2 badak Sumatera yang telah menjadi penghuni terdahulu dari aku. Dia Torgamba dan Bina. Kini aku dikenal dengan sebutan Ratu. Nama Ratu aku peroleh dari nama desa tempat aku ditangkap, yaitu desa Labuhan Ratu.

Nah….. teman-teman demikianlah cerita asal-usul namaku. Semoga setelah teman-teman membaca cerita perjalananku ini teman-teman jadi sadar akan pentingnya hutan bagi kami. Bila tidak ada hutan maka kami, badak Sumaterapun akan kehilangan rumah. Kini aku ada di SRS, di SRS aku di perlakukan sebagaimana aku di habitat asliku. Setiap pagi aku mendapatkan daun dan buah-buahan. Kakipun mendapatkan perawatan oleh dokter hewan di SRS. Kurang lebih 1 bulan kakipun akhirnya kembali normal. Wah….. senangnya hatiku, kini aku bisa berlari dengan cepat lagi. Meskipun aku berpisah dengan Boni, aku tetap mempunyai banyak sahabat di sini. Aku tak takut kesepian lagi.

Sampai jumpa teman-teman di lain waktu aku menuliskan kisah hidupku. Semoga teman-teman mau mendoakanku semoga aku mampu bertahan di SRS. Amien….

(selesai)

Written by Yenny

Gambar kartun dari http://www.billybear4kids.com

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: