Penyebab Kematian Tiga Ekor Badak Jawa di Ujung Kulon Belum Terungkap

tulang badak

tulang badak (Foto: RRC - Rhino Resources Center)

Kematian tiga ekor badak jawa (Rhinoceros sondaicus) masih menyisakan misteri. Setidaknya itulah kesimpulan sementara yang dihasilkan dari diskusi sehari yang dilaksanakan di Kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Pandeglang, pada tanggal 5 Oktober 2010. Diskusi ini dihadiri oleh Kepala dan staf Disnakkeswan Pandeglang, BP3KH Distanak Banten, Distanak Pandeglang, WWF Indonesia, Forum Badak Indonesia, Yayasan Badak Indonesia, personel RPU (Rhino Protection Unit), dan staf Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Pada bulan tanggal 20 Mei 2010 ketika melakukan inventarisasi tahunan, tim inventarisasi menemukan satu kerangka badak jawa di Rawa Nyiur, Blok Bagian Utara di Semenanjung Ujung Kulon. Kerangka badak kedua ditemukan di Cikeusik pada tanggal 14 Juni 2010, sekitar 15 kilometer di sebelah Utara lokasi penemuan kerangka pertama. Kerangka badak ketiga ditemukan di Cibunar pada tanggal 28 Juni 2010. Kematian tiga ekor badak itu merupakan kematian badak ke-10 dalam sepuluh tahun terakhir.

Tim ROAM (kerja sama Balai TNUK – WWF Indonesia) adalah yang pertama kali menemukan ketiga kerangka badak tersebut. Pada tengkorak badak pertama dan kedua masih ditemukan cula, menunjukkan bahwa keduanya mati bukan akibat perburuan. Giginya juga masih utuh yang berarti umurnya masih cukup muda. Dugaan kematian akibat pertarungan dengan sesama pejantan mengingat kedua badak yang ditemukan berjenis kelamin jantan, walaupun dugaan ini tentu perlu penelitian lebih lanjut, karena jarang ditemukan perkelahian badak sampai menimbulkan kematian. Secara jelas, sebuah kematian satwa bukan karena umur tua harus dianggap sebagai kematian tidak wajar.

Pada kerangka pertama, hampir 90 persen tulang belulangnya masih lengkap. Kerangka kedua kondisinya juga relatif lengkap. Yang menarik, cula pada kedua kerangka tersebut telah keropos. Padahal pada kasus badak sumatera, culanya lebih tahan. Perlu diselidiki mengapa cula kedua ekor badak itu menjadi keropos.  Kondisi kerangka ketiga lebih buruk dibandingkan kedua temuan sebelumnya. Hanya tiga tulang yang ditemukan, yaitu dua tulang iga dan sebuah tulang paha. Ada kemungkinan kematiannya terjadi akibat perburuan karena cula dan sebagian besar tulang tidak ditemukan.

tulang badak

tulang badak (Foto: RRC - Rhino Resources Center)

Pencarian penyebab kematian mengalami kendala karena rentang antara waktu kematian dengan waktu penemuan kerangka cukup panjang. Diperkirakan badak yang ditemukan pertama kali mengalami kematian 2 atau 3 bulan sebelumnya. Ada bukti bahwa kepalanya sempat diseret oleh binatang pemakan bangkai. Tidak ada tanda-tanda perlawanan pada kedua kerangka. Diperkirakan badak-badak tersebut mengalami kematian mendadak. Biasanya kematian seperti ini disebabkan oleh carditis, tripanosoma dan virus. Untuk membuktikannya tim mengambil sampel tanah dan air di sekitar bangkai badak, aliran sungai, kotoran badak dan binatang lain termasuk juga parasit ternak. Hasil analisis parasit yang dilakukan oleh dokter hewan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pandeglang tidak menemukan kandungan parasit yang mencurigakan. Tim menemukan kandungan salmonella. Tetapi perlu dicek lagi tipenya karena tidak semua tipe salmonella dapat menyebabkan penyakit. Hasil uji lab menyimpulkan uji anthrax negatif baik hasil uji lab oleh Disnakkeswan maupun uji yang dilakukan oleh dokter Teri Roth dari Cincinnati Zoo. Hasil uji lab ini selaras dengan catatan kondisi di sekitar kawasan. Di Banten dan khususnya Kabupaten Pandeglang sudah hampir 20 tahun lebih tidak ditemukan kasus anthrax. Demikian pula dengan Septizemia epizootica (SE). Namun ini perlu diselidiki lebih lanjut karena ada penemuan ternak kerbau di Ujung Kulon menderita penyakit ngorok yang merupakan gejala utama penyakit SE.

tulang badak

tulang badak (Foto: STRC - Save The Rhino International)

Sampel untuk uji anthrax yang diambil oleh dokter Teri Roth diambil dari hidung badak. Sampel kemudian diuji di Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Lampung. Hasil rapid testnya negatif. Akan tetapi karena rapid test yang dilakukan sebenarnya diperuntukkan untuk bison, sampel tersebut tetap perlu diuji lagi. Untuk sementara sampel diperiksa di Ameika Serikat untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk mengetahui lebih lanjut penyebab kematian ketiga ekor badak jawa itu perlu dibentuk Tim Investigasi baru yang lebih lengkap dengan melibatkan ahli patologi, toksikologi, anthropologi forensik, entomologi, DNA, ekologi badak Jawa dan mikrobiologi untuk mengevaluasi hasil analisis tim terdahulu dan menggali petunjuk baru. Perlu juga melihat kematian badak dari segi epidemologi. Epidemologi tidak sekedar untuk menemukan penyebab kematian, tapi juga untuk memberikan rekomendasi pengelolaan kawasan. Untuk menelusuri penyebab kematian badak, dan juga sebagai bahan rekomendasi pengelolaan ke depan, perlu ditelusuri kembali kematian-kematian badak sebelumnya.

Sebagai salah satu mamalia besar paling langka di dunia, dan termasuk spesies badak paling langka di dunia, kematian tiga ekor badak jelas sebuah kerugian besar. Kematian tiga ekor badak dalam waktu hampir berdekatan menerbitkan kekhawatiran serius. Apalagi kematian ketiganya terlambat diketahui. Seandainya bangkai badak ini cepat ditemukan akan lebih mudah diselidiki penyebab kematiannya sehingga tindakan pencegahan atau penganggulangan dapat segera dilakukan untuk mencegah penyebab yang sama membunuh badak-badak yang lain.

Agar kejadian tersebut tidak terulang kembali, perlu dilakukan evaluasi manajemen kawasan termasuk diantaranya metode patroli dan upaya menurunkan ancaman dari luar kawasan. Upaya perlindungan badak tidak saja harus dilihat dari adanya ancaman perburuan tetapi juga dari ancaman penyakit menular dan seba-sebab lain. Disarankan Tim Patroli RMPU dan tim-tim lainnya yang ada di Ujung Kulon memperluas jalur jelajah patroli. Kawasan yang selalu harus diperiksa terutama adalah daerah perairan, sungai, anak sungai, rawa dan kubangan. Penemuan satwa mati lebih dini akan membantu menemukan berbagai penyebab kematiannya.

Di sekitar kawasan, masih banyak ditemukan kerbau peliharaan penduduk yang dipelihara dengan jalan diumbar. Kerbau-kerbau yang kesulitan menemukan makanan di kampung, seringkali masuk ke dalam kawasan.  Masuknya ternak ke dalam kawasan bukan saja mengganggu kehidupan binatang liar, tetapi juga beresiko menularkan penyakit. Hasil pengamatan lapangan, Ujung Jaya adalah lokasi ternak terdekat ke habitat badak di Ujung Kulon, akan tetapi ternak-ternak tersebut tidak terlalu jauh memasuki kawasan TNUK.  Distanak Banten menemukan bahwa kecacingan kerbau di Ujung Jaya tergolong tinggi. Karena itu, dilakukan pengobatan dan edukasi kesehatan ternak bekerja sama dengan mahasiswa-mahasiswa UGM yang sedang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Ujung Jaya. Dalam rangka pengelolaan ternak ini, dibutuhkan lebih dari satu orang dokter hewan di sekitar TNUK (Kecamatan Cimanggu, Kec. Cibitung, dan Kec. Sumur). Penyediaan makanan di sekitar kampung menjadi pilihan untuk menyelesaikan persoalan pakan ternak. Lahan-lahan tidur yang ada di sekitar TNUK dapat dimanfaatkan sebagai daerah yang dapat ditanami pakan ternak. Insentif bagi peternak perlu dipertimbangkan. Insentif tidak hanya dalam bentuk uang tunai, melainkan juga bisa dalam bentuk program seperti pembuatan biogas dari kotoran kerbau yang dapat merangsang peternak untuk mengandangkan kerbaunya. Disamping ternak kerbau, persawahan dan bentuk-bentuk lain pemanfaatan kawasan Ujung Kulon oleh masayarakat sekitar, telah sangat  mengkawatirkan. Program peningkatan kemandirian perekenomian masyarakat sekitar dapat menjadi prioritas utama karena dapat mengurangi gangguan kawasan, habitat menjadi terjaga, dan menghilangkan perambahan.

*/Penulis: Koen Setyawan.

, , ,

  1. #1 by ibnuabil on November 23, 2010 - 4:50 pm

    ayo semangat…
    Demi kelestarian badak kita>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: