httsan

lahir di indonesia, belajar di indonesia, bekerja untuk indonesia, dengan komunikasi dunia.

Homepage: http://httsan.web.id/

Yahoo Messenger: enschedesan

Jabber/GTalk: hartantosanjaya@gmail.com

“Tools of the Trade” Starring Jackie Chan

Advertisements

, ,

Leave a comment

FBI Hadir di Seminar Observasi Badak “LOST IN THE EXOTIC ADVENTURE OF UJUNG KULON”

seminar_obervasi_badak

Seminar Observasi Badak KAPA FTUI

Kamuka Parwata Fakultas Teknik Universitas Indonesia (KAPA FTUI) mengadakan kegiatan yang bertajuk “LOST IN THE EXOTIC ADVENTURE OF UJUNG KULON”. Pada rangkaian kegiatan ini diselenggarakan juga Seminar Observassi Badak.

Seminar yang diadakan pada hari Sabtu, 14 Januari 2012 dan berlokasi di FTUI ini, adalah kegiatan pra-observasi dengan tema: Observasi badak dan ekosistemnya di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Seminar ini nantinya akan dijadikan pijakan acara dalam melakukan observasi berdasarkan data-data sekunder dan hasil diskusi yang akan disajikan.

FBI hadir ikut meramaikan seminar ini dengan beberapa punggawanya, yaitu: mas Sudarno, Rama, Soni, Marchel, dan mbak Rani serta mbak Wanya.

Mas Marchel (Drh. Marcellus Adi) menjadi salah satu pembicara, dengan menampilkan beragam informasi mengenai badak di Indonesia, khususnya badak Jawa yang berhabitat di TNUK. Informasi disampaikan melalui slide dan film.

Pada kesempatan acara itu peserta juga diajak bermain “ular-tangga” versi badak Indonesia, yang dipandu oleh para punggawa FBI.

Terimakasih pada KAPA FTUI atas undangan pada seminar ini. Semoga informasi yang disampaikan dapat menjadi bahan kegiatan “LOST IN THE EXOTIC ADVENTURE OF UJUNG KULON”.

Salam Lestari..!!!

This slideshow requires JavaScript.

, , ,

4 Comments

Follow @forumbadak di Twitter

FBI di Twitter

FBI di Twitter @forumbadak

FBI hadir di Twitter, sila follow tweet dari FBI di @forumbadak.

: )

,

Leave a comment

Penyebab Kematian Tiga Ekor Badak Jawa di Ujung Kulon Belum Terungkap

tulang badak

tulang badak (Foto: RRC - Rhino Resources Center)

Kematian tiga ekor badak jawa (Rhinoceros sondaicus) masih menyisakan misteri. Setidaknya itulah kesimpulan sementara yang dihasilkan dari diskusi sehari yang dilaksanakan di Kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Pandeglang, pada tanggal 5 Oktober 2010. Diskusi ini dihadiri oleh Kepala dan staf Disnakkeswan Pandeglang, BP3KH Distanak Banten, Distanak Pandeglang, WWF Indonesia, Forum Badak Indonesia, Yayasan Badak Indonesia, personel RPU (Rhino Protection Unit), dan staf Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Pada bulan tanggal 20 Mei 2010 ketika melakukan inventarisasi tahunan, tim inventarisasi menemukan satu kerangka badak jawa di Rawa Nyiur, Blok Bagian Utara di Semenanjung Ujung Kulon. Kerangka badak kedua ditemukan di Cikeusik pada tanggal 14 Juni 2010, sekitar 15 kilometer di sebelah Utara lokasi penemuan kerangka pertama. Kerangka badak ketiga ditemukan di Cibunar pada tanggal 28 Juni 2010. Kematian tiga ekor badak itu merupakan kematian badak ke-10 dalam sepuluh tahun terakhir.

Tim ROAM (kerja sama Balai TNUK – WWF Indonesia) adalah yang pertama kali menemukan ketiga kerangka badak tersebut. Pada tengkorak badak pertama dan kedua masih ditemukan cula, menunjukkan bahwa keduanya mati bukan akibat perburuan. Giginya juga masih utuh yang berarti umurnya masih cukup muda. Dugaan kematian akibat pertarungan dengan sesama pejantan mengingat kedua badak yang ditemukan berjenis kelamin jantan, walaupun dugaan ini tentu perlu penelitian lebih lanjut, karena jarang ditemukan perkelahian badak sampai menimbulkan kematian. Secara jelas, sebuah kematian satwa bukan karena umur tua harus dianggap sebagai kematian tidak wajar.

Pada kerangka pertama, hampir 90 persen tulang belulangnya masih lengkap. Kerangka kedua kondisinya juga relatif lengkap. Yang menarik, cula pada kedua kerangka tersebut telah keropos. Padahal pada kasus badak sumatera, culanya lebih tahan. Perlu diselidiki mengapa cula kedua ekor badak itu menjadi keropos.  Kondisi kerangka ketiga lebih buruk dibandingkan kedua temuan sebelumnya. Hanya tiga tulang yang ditemukan, yaitu dua tulang iga dan sebuah tulang paha. Ada kemungkinan kematiannya terjadi akibat perburuan karena cula dan sebagian besar tulang tidak ditemukan.

tulang badak

tulang badak (Foto: RRC - Rhino Resources Center)

Pencarian penyebab kematian mengalami kendala karena rentang antara waktu kematian dengan waktu penemuan kerangka cukup panjang. Diperkirakan badak yang ditemukan pertama kali mengalami kematian 2 atau 3 bulan sebelumnya. Ada bukti bahwa kepalanya sempat diseret oleh binatang pemakan bangkai. Tidak ada tanda-tanda perlawanan pada kedua kerangka. Diperkirakan badak-badak tersebut mengalami kematian mendadak. Biasanya kematian seperti ini disebabkan oleh carditis, tripanosoma dan virus. Untuk membuktikannya tim mengambil sampel tanah dan air di sekitar bangkai badak, aliran sungai, kotoran badak dan binatang lain termasuk juga parasit ternak. Hasil analisis parasit yang dilakukan oleh dokter hewan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pandeglang tidak menemukan kandungan parasit yang mencurigakan. Tim menemukan kandungan salmonella. Tetapi perlu dicek lagi tipenya karena tidak semua tipe salmonella dapat menyebabkan penyakit. Hasil uji lab menyimpulkan uji anthrax negatif baik hasil uji lab oleh Disnakkeswan maupun uji yang dilakukan oleh dokter Teri Roth dari Cincinnati Zoo. Hasil uji lab ini selaras dengan catatan kondisi di sekitar kawasan. Di Banten dan khususnya Kabupaten Pandeglang sudah hampir 20 tahun lebih tidak ditemukan kasus anthrax. Demikian pula dengan Septizemia epizootica (SE). Namun ini perlu diselidiki lebih lanjut karena ada penemuan ternak kerbau di Ujung Kulon menderita penyakit ngorok yang merupakan gejala utama penyakit SE.

tulang badak

tulang badak (Foto: STRC - Save The Rhino International)

Sampel untuk uji anthrax yang diambil oleh dokter Teri Roth diambil dari hidung badak. Sampel kemudian diuji di Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Lampung. Hasil rapid testnya negatif. Akan tetapi karena rapid test yang dilakukan sebenarnya diperuntukkan untuk bison, sampel tersebut tetap perlu diuji lagi. Untuk sementara sampel diperiksa di Ameika Serikat untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk mengetahui lebih lanjut penyebab kematian ketiga ekor badak jawa itu perlu dibentuk Tim Investigasi baru yang lebih lengkap dengan melibatkan ahli patologi, toksikologi, anthropologi forensik, entomologi, DNA, ekologi badak Jawa dan mikrobiologi untuk mengevaluasi hasil analisis tim terdahulu dan menggali petunjuk baru. Perlu juga melihat kematian badak dari segi epidemologi. Epidemologi tidak sekedar untuk menemukan penyebab kematian, tapi juga untuk memberikan rekomendasi pengelolaan kawasan. Untuk menelusuri penyebab kematian badak, dan juga sebagai bahan rekomendasi pengelolaan ke depan, perlu ditelusuri kembali kematian-kematian badak sebelumnya.

Sebagai salah satu mamalia besar paling langka di dunia, dan termasuk spesies badak paling langka di dunia, kematian tiga ekor badak jelas sebuah kerugian besar. Kematian tiga ekor badak dalam waktu hampir berdekatan menerbitkan kekhawatiran serius. Apalagi kematian ketiganya terlambat diketahui. Seandainya bangkai badak ini cepat ditemukan akan lebih mudah diselidiki penyebab kematiannya sehingga tindakan pencegahan atau penganggulangan dapat segera dilakukan untuk mencegah penyebab yang sama membunuh badak-badak yang lain.

Agar kejadian tersebut tidak terulang kembali, perlu dilakukan evaluasi manajemen kawasan termasuk diantaranya metode patroli dan upaya menurunkan ancaman dari luar kawasan. Upaya perlindungan badak tidak saja harus dilihat dari adanya ancaman perburuan tetapi juga dari ancaman penyakit menular dan seba-sebab lain. Disarankan Tim Patroli RMPU dan tim-tim lainnya yang ada di Ujung Kulon memperluas jalur jelajah patroli. Kawasan yang selalu harus diperiksa terutama adalah daerah perairan, sungai, anak sungai, rawa dan kubangan. Penemuan satwa mati lebih dini akan membantu menemukan berbagai penyebab kematiannya.

Di sekitar kawasan, masih banyak ditemukan kerbau peliharaan penduduk yang dipelihara dengan jalan diumbar. Kerbau-kerbau yang kesulitan menemukan makanan di kampung, seringkali masuk ke dalam kawasan.  Masuknya ternak ke dalam kawasan bukan saja mengganggu kehidupan binatang liar, tetapi juga beresiko menularkan penyakit. Hasil pengamatan lapangan, Ujung Jaya adalah lokasi ternak terdekat ke habitat badak di Ujung Kulon, akan tetapi ternak-ternak tersebut tidak terlalu jauh memasuki kawasan TNUK.  Distanak Banten menemukan bahwa kecacingan kerbau di Ujung Jaya tergolong tinggi. Karena itu, dilakukan pengobatan dan edukasi kesehatan ternak bekerja sama dengan mahasiswa-mahasiswa UGM yang sedang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Ujung Jaya. Dalam rangka pengelolaan ternak ini, dibutuhkan lebih dari satu orang dokter hewan di sekitar TNUK (Kecamatan Cimanggu, Kec. Cibitung, dan Kec. Sumur). Penyediaan makanan di sekitar kampung menjadi pilihan untuk menyelesaikan persoalan pakan ternak. Lahan-lahan tidur yang ada di sekitar TNUK dapat dimanfaatkan sebagai daerah yang dapat ditanami pakan ternak. Insentif bagi peternak perlu dipertimbangkan. Insentif tidak hanya dalam bentuk uang tunai, melainkan juga bisa dalam bentuk program seperti pembuatan biogas dari kotoran kerbau yang dapat merangsang peternak untuk mengandangkan kerbaunya. Disamping ternak kerbau, persawahan dan bentuk-bentuk lain pemanfaatan kawasan Ujung Kulon oleh masayarakat sekitar, telah sangat  mengkawatirkan. Program peningkatan kemandirian perekenomian masyarakat sekitar dapat menjadi prioritas utama karena dapat mengurangi gangguan kawasan, habitat menjadi terjaga, dan menghilangkan perambahan.

*/Penulis: Koen Setyawan.

, , ,

1 Comment

Kehilangan Badak Jawa

badak jawa

Badak jawa (dok TNUK)

Kembali, dunia konservasi satwa langka dirudung duka. Diberitakan bahwa telah ditemukan badak Jawa yang mati di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Ini merupakan kehilangan yang besar, karena populasi badak jawa diperkirakan kurang dari 60 ekor. kematian ini diperkirakan terjadi dua-tiga bulan lalu, dan sedang diselidiki penyebabnya.

Badak jawa di TNUK termasuk satwa yang sulit untuk ditemukan bahkan oleh para punggawa TNUK sendiri, karena menempati areal yang luas dan jumlahnya yang sedikit. TNUK sendiri tengah mengadakan sensus dengan menggunakan beberapa metoda, antara lain dengan memasang kamera jebakan, yang akan memotret otomatis saat badak melintas.

,

Leave a comment

The lost of the 1st pregnancy of Ratu

Ratu

Ratu at Way Kambas National Park, photo by hartanto

Conservationists across the world are saddened by the loss of the first pregnancy of Ratu, a young female Sumatran rhino at Indonesia’s Sumatran Rhino Sanctuary in Way Kambas National Park. Ratu and male Andalas, brought together through international goodwill and cooperation in an effort to save this critically endangered species, bred successfully in January, and a pregnancy was announced in February.

Ratu, born in Indonesia, wandered into a village just outside Sumatra’s Way Kambas National Park in 2006. Andalas, the first of only three Sumatran rhinos born in captivity in more than 112 years, was born at the Cincinnati Zoo & Botanical Garden in 2001, grew up at the Los Angeles Zoo and was transferred from the L.A. Zoo to the Sumatran Rhino Sanctuary in 2007.

Three years after Andalas’ successful transition to the Sumatran Rhino Sanctuary, he and Ratu mated. The breeding followed months of gradual introduction by scent, sound, sight, and finally, physical proximity. An ultrasound revealed Ratu was pregnant in early February. However, recent examinations indicate that the embryo is no longer present.

Baca selengkapnya di: WorldZooToday, March 31st, 2010.

, , , ,

Leave a comment

Kehamilan Badak Sumatera

Ratu dan Andalas (foto oleh TNWK)

JAKARTA, KOMPAS.com — Walaupun kelahiran anak Ratu, badak berusia 9 tahun berbobot sekitar 525 kg, diperkirakan bulan Mei 2011,  berita kehamilan badak sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis dari sebuah desa di pinggiran Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, itu sudah mendunia dan disambut sukacita para penggiat konservasi di Indonesia dan dunia.

“Keberhasilan Ratu mengandung bayinya merupakan hasil kombinasi dari ilmu pengetahuan yang baik, kerja sama internasional antara pemerintah, LSM, dan kebun-kebun binatang, kerja sama yang erat dan waktu yang tepat, serta ketelatenan dari para personal di tempat penangkaran,” kata Darori, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Jumat (19/2/2010) di Jakarta.

Berita selengkapnya: Kompas, 19 Pebruari 2010.

, ,

Leave a comment

Zoo’s Sumatran rhino dies

Sumatran rhino Emi, right and her calf, Suci in 2005.  (The Enquirer / Tony Jones)

Sumatran rhino Emi, right and her calf, Suci in 2005. (The Enquirer / Tony Jones)

Emi, the Sumatran rhino that delivered a record number of calves while in captivity, died this weekend, dealing a setback to the breeding programs that once called her the last hope to saving the endangered species.

The 21-year-old rhino lived at the Cincinnati Zoo & Botanical Garden for 14 years, becoming a crowd favorite and producing three calves, Andalas, Suci and Harapan.

Just eight years ago, the delivery of Andalas marked the first captive birth of a Sumatran rhino in more than a century and helped the zoo become an internationally known breeding program.

“The loss of an animal that’s as beloved and well-known as Emi is always heartbreaking,” said Thane Maynard, director of the Cincinnati Zoo. “But it’s important to remember, too, that we’re going to continue to work to save endangered species like this, and that Emi won’t be forgotten.”

Read the rest of this entry »

, , , , , ,

4 Comments

Poaching boom is once again threatening the world’s rhinos

Rhino killed

Rhino killed

Poaching crisis as rhino horn demand booms in Asia

July 2009. Rhino poaching worldwide is poised to hit a 15-year-high driven by increased demand in Asia, according to new research.

Poachers in Africa and Asia are killing an ever increasing number of rhinos-an estimated two to three a week in some areas-to meet a growing demand for horns believed in some countries to have medicinal value, according to a briefing to a key international wildlife trade body by WWF, the International Union for the Conservation of Nature (IUCN) and their affiliated wildlife trade monitoring network TRAFFIC.

12 rhinos killed every month in South Africa and Zimbabwe
An estimated three rhinos were illegally killed each month in all of Africa from 2000-05, out of a population of around 18,000. In contrast, 12 rhinoceroses now are being poached each month in South Africa and Zimbabwe alone, the three groups told the 58th meeting of the Convention on International Trade in Endangered Species Standing Committee this week in Geneva.

“Illegal rhino horn trade to destinations in Asia is driving the killing, with growing evidence of involvement of Vietnamese, Chinese and Thai nationals in the illegal procurement and transport of rhino horn out of Africa,” the briefing states.

More, click source: Wildlife Extra News

, ,

Leave a comment

Treasuring the Javan Rhino

Jakarta Globe – In a tranquil forest on the westernmost tip of Java, the sound of lapping water in a moss-green river is accompanied by an occasional breeze whispering through the foliage of nipa palms as kaleidoscopic butterflies flit across the riverbed.

Further down the river, past overhanging branches on which pythons slither and civets spring, across boggy terrain and two coral-bedded creeks, is a mud hole frequented by Javan rhinos. Measuring about 20 square meters, the mud wallow is a resting place for these rare mammals in Ujung Kulon National Park.

More on source: JakartaGlobe, May 24, 2009.

, ,

2 Comments