Archive for category All About Rhino

Tribute to Torgamba

koen

Tadi siang barusan dapat kabar mengagetkan dari Mas Marchel, Torgamba mati.

” Tadi pagi berita yang menyedihkan datang dari teman2 di TN Way Kambas, sekitar jam 7.20, Torgamba di SRS akhirnya meninggal. Terakhir saya menengok dia berkubang di lumpur yang pekat, nampak menikmati, lalu bisa menggosok2kan badanya di batang-batang pohon alami. Nampaknya itu adalah kebahagiaan terakhir dia… sebelum meninggalkan kita…Torgamba adalah badak sumatera pertama yang ditangkap di Indonesia (tahun 1985) pada era modern untuk keperluan pengembangbiakan.Torgamba mungkin memang punya penyakit kronis (ginjal dan hati), tapi itu belum tentu penyakit bawaan, seharusnya ia masih bisa disembuhkan. Sayang memang ia belum sempat memberi keturunan sebelum mati. Jadi ia berada di penangkaran selama 26 tahun. Jauh lebih lama dari yang ditangkap sesudah dia, yang hampir semuanya mati di kebun-kebun binatang, yaitu sekitar 15 ekor yang sudah mati (1 waktu penangkapan di Riau, 1 di malaysia, 5 di Indonesia, 6 di Amerika, 2 di Inggris).

Selamat jalan Torgamba, kamu sudah memberikan yang terbaik selama hidupmu. Banyak pelajaran seharusnya dapat dipetik oleh manusia dari kehidupanmu di sekitar kami.”

Aneh, beberapa minggu yang lalu sempat chatting dengan Mas Dedy Chandra, dokter SRS yang merawat Torgamba. Kabarnya memang Torgamba tak bisa sembuh. Kemarin secara gak sengaja liat foto-foto badak-badak di SRS (Suaka Rhino Sumatera), termasuk Torgamba. Torgamba adalah badak sumatera pertama yang pernah kukenal. Sebelum sempat bertemu muka dengannya, sekilas tampangnya sudah muncul di VCD The Last Rhino yang sempat kubeli beberapa tahun yang lalu, menceritakan penangkapan 40 ekor badak Indonesia untuk penangkaran. Dalam salah satu adegan, Torgamba yang saat itu berada di Port Lymphe, Inggris dengan culanya yang kepalang besar, bermain-main menanduk sepotong kayu dan melemparkannya ke lumpur. Belakangan aku tahu cula tak proporsional itu karena hormon penumbuh kukunya. Cula badak memang serupa penyusunnya dengan kuku dan rambut.

Torgamba

Kesempatan melihat langsung Torgamba baru terwujud tahun 2006 setelah ada tawaran menulis buku tentang badak sumatera. Sempat menginap di SRS untuk studi selama seminggu, tiap pagi aku bisa menyaksikan langsung keseharian Torgamba, Rosa, Ratu, dan Bina. Kecuali Torgamba, semua badak ini betina. Kelak, seekor badak jantan muda, Andalas, melengkapi koleksi SRS.

Torgamba datang sebagai pejantan paruh baya setelah melanglang buana di Eropa. Dijadikan sebagai satu-satunya pejantan untuk meneruskan keturunan badak sumatera yang semakin langka, Torgamba tak banyak menjanjikan. Namun, ia membuat para keeper jatuh cinta. Pejantan tua yang anggun ini menjadi badak favorit. Bertahan dari kematian saat penangkapan, dalam balutan musim dingin Eropa, Torgamba bertahan lama di SRS. Sayang tubuhnya kian renta. Bahkan untuk makan pun perlu dibantu oleh para keeper. Terakhir, badak sumatera jantan ini sempat diinfus. Tapi kerdipan matanya yang ramah, menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Selamat jalan Torgamba, kami tak akan melupakanmu.

*/ Oleh: Koen Setyawan (ditulis ulang dari notes di Facebook Koen Setyawan pada 25 April 2011)

, , ,

Leave a comment

Zoo’s Sumatran rhino dies

Sumatran rhino Emi, right and her calf, Suci in 2005.  (The Enquirer / Tony Jones)

Sumatran rhino Emi, right and her calf, Suci in 2005. (The Enquirer / Tony Jones)

Emi, the Sumatran rhino that delivered a record number of calves while in captivity, died this weekend, dealing a setback to the breeding programs that once called her the last hope to saving the endangered species.

The 21-year-old rhino lived at the Cincinnati Zoo & Botanical Garden for 14 years, becoming a crowd favorite and producing three calves, Andalas, Suci and Harapan.

Just eight years ago, the delivery of Andalas marked the first captive birth of a Sumatran rhino in more than a century and helped the zoo become an internationally known breeding program.

“The loss of an animal that’s as beloved and well-known as Emi is always heartbreaking,” said Thane Maynard, director of the Cincinnati Zoo. “But it’s important to remember, too, that we’re going to continue to work to save endangered species like this, and that Emi won’t be forgotten.”

Read the rest of this entry »

, , , , , ,

4 Comments

Filosofi Hidup Badak

Badak adalah bukti satwa dari sisa zaman dinosaurus. Saat kehidupan dinosaurus dan yang lainnya punah akibat perubahan iklim yang sangat drastis, badak dan beberapa satwa lainnya seperti komodo masih terselamatkan dan terpelihara dengan baik keberadaannya. Mereka berevolusi sesuai dengan zamannya tetapi tidak meninggalkan bentuk dan ciri dari nenek moyang mereka.  Badak purba dahulunya berbadan cukup besar dan burbulu lebat, hal ini masih dapat kita lihat pada jenis badak Sumatera dengan adanya bulu yang ada di sekujur tubuhnya walaupun mempunyai tubuh yang lebih kecil.

Gambar 1

Gambar 1.  Nenek moyang dari badak yang lebih dikenal dengan Wooly Rhino

Read the rest of this entry »

1 Comment

Badak di Indonesia Terancam Kepunahan?

Badak!!! Satwa ini merupakan satwa yang secara umum cukup dikenal oleh masyarakat secara luas, bahkan pameo tentang ’muka badak’ lebih melekat dikalangan orang umum untuk orang yang tak tahu malu. Tapi sebenarnya badak adalah satwa yang sangat pemalu dan soliter (hidup sendiri-sendiri) di habitat aslinya.

Secara umum masyarakat mengenal badak adalah satwa yang punya tanduk atau cula di hidungnya dan berat badan yang besar. Secara morfologi itu sangatlah benar. Tetapi berdasarkan pengalaman dan pantauan yang terlihat, masyarakat di Indonesia lebih mengenal badak dari Afrika, besar tinggi dan punya cula yang menjulang tinggi seperti yang terlihat di Taman Safari, kebun binatang atau televisi.

Read the rest of this entry »

2 Comments